Calendar

November 2015
SunMonTueWedThuFriSat
 << <Jun 2017> >>
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
2930     

Announce

Who's Online?

Member: 0
Visitor: 1

rss Syndication

Posts sent on: 2015-11-22

22 Nov 2015 
Hampir lebih dari 10 tahun Pakistan bagian barat laut dilanda aksi-aksi kekejaman kelompok disiden ekstremis. Namun, tragedi ini justru menerbangkan wirausaha lokal dalam sisi penjualan peti mati. Peti mati sebenarnya tidak dikenakan dalam upacara pemakaman tradisional Islam pada Pakistan. Tapi, korban-korban ledakan bom dengan biasanya tutup berkeping-keping dikuburkan dalam peti mati. Penggagas industri peti mati yang Pakistan ialah Jehanzeb Khan, 60. Dia sudah mengatur dan memasarkan peti mati dari 1980-an.


“Awalnya, saya cuma menjual 2 atau 3 peti mati, ” kata Khan. Bisnis Pabrik Peti Mati yang dirintis Khan tersebut mulai ingat ketika aksi-aksi pemberontakan group ekstremis merambat pada 2004, setelah penyerbuan Amerika Konsorsium ke Afghanistan. Menurut pengasuh Pakistan, lebih dari 50 ribu sosok tewas ditembak, terkena ledakan bom, maupun serangan bunuh diri. “Orang-orang mulai memakai peti mati buat jasad-jasad dengan meninggal konsekuensi serangan, ” jelas Khan. Sekarang, Khan menjual kira-kira 15 peti mati sehari. Kecuali dia, terdapat 40 produser dan penjual lain pada Peshawar. Jangka sebuah kampus yang dikelola militer pada Peshawar diserang kelompok Taliban, Desember lalu, Khan order pesanan 60 peti mati. Dia berupaya memelihara stok setidaknya 80 peti mati untuk berkeledar jika terselip serangan meriah tiba-tiba. Bagi Khan, bisnis yang dia geluti tersebut bisa jadi terasa sungguh menyiksakan, apalagi dia pun pantas mengambil pelajaran dari situ. Saat ofensif Taliban berlangsung di kampus militer di Peshawar, sepertinya, Khan mengiakan, “Waktu tersebut saya ngerasa sungguh tersinggung. ”




Penjual lain peti mati ialah Shehryar Khan, 23. Peti matinya lebih kerap dipesan korps militer / paramiliter. “Kami membuat peti mati khusus dalam militer. Tersebut biasanya meminta material secara bagus, gawang yang bertambah baik, juga ada pegangannya, ” perintah Khan. Bagi model peti mati biasa, Khan menjualnya seharga US$30. Selama itu, buat model yg dia ujar deluxe, harganya mencapai US$100. “Sekali ataupun dua kali pada setahun, aku harus membuat peti mati yang sangat khusus jika tersedia pejabat superior militer secara meninggal. Kita menggunakan tiang cedar, busa yang bertaraf tinggi, pun kain beludru untuk unit khusus tersebut. Harganya kira-kira 35 seperseribu rupee, sekitar US$350, ” jelas Khan lagi.




Setara dengan ketentuan Islam, pemakaman dilakukan secepatnya, terutama pra matahari tergelincir di tarikh yang sama dgn waktu meninggal seseorang. Olehkarena itu itu, Shehryar Khan membuka pelayanan 24 jam. Seorang pramuniaganya, Niaz Ali Shah, 31, mengaku tidur pada toko pada setiap malam. “Pengemudi ambulans saja sudah ketahui kami menjaga 24 beker. Jadi manakala saja terdapat yang menginginkan peti mati, sopir ambulans jelas membawa mereka ke toko kami, ” kata Shah. Shah sendiri mengaku tutup bekerja pada toko Shehryar Khan selama masa 4 tahun. Bagi Shah, pekerjaannya ini bagian atas kewajiban religius. “Kami berbagi duka sesama. Kami menyusun peti mati lakukan mereka sekalian sebagai pengingat bahwa aku semua juga akan tewas kelak, ” ucap Shah.


Admin · 1396 views · Leave a comment
22 Nov 2015 
Hampir semakin dari 10 tahun Pakistan bagian barat laut dilanda aksi-aksi kekejaman kelompok disiden ekstremis. Namun, tragedi itu justru menerbangkan wirausaha lokal dalam faktor penjualan peti mati. Peti mati sesungguhnya tidak digunakan dalam upacara pemakaman tradisional Islam dalam Pakistan. Tetapi, korban-korban ledakan bom secara biasanya tutup berkeping-keping dikuburkan dalam peti mati. Penggagas industri peti mati dalam Pakistan adalah Jehanzeb Khan, 60. Dia sudah menggunakan dan menawarkan peti mati sejak 1980-an.


“Awalnya, saya sama sekali menjual dua atau tiga peti mati, ” kata Khan. Bisnis Pabrik Peti Mati yang dirintis Khan hal itu mulai ingat ketika aksi-aksi pemberontakan group ekstremis menjadi-jadi pada 2004, setelah agresi Amerika Sindikat ke Afghanistan. Menurut pengasuh Pakistan, semakin dari 50 ribu orang-orang tewas ditembak, terkena ledakan bom, bahkan serangan hilangkan diri. “Orang-orang mulai menjalankan peti mati buat jasad-jasad yg meninggal akibat serangan, ” jelas Khan. Sekarang, Khan menjual kira-kira 15 peti mati sehari. Selain dia, ada 40 produser dan penjual lain di Peshawar. Saat sebuah sekolah yang dikelola militer di Peshawar diserang kelompok Taliban, Desember dan lalu, Khan nampi pesanan 60 peti mati. Dia berupaya memelihara stok setidaknya 80 peti mati untuk membenahi jika ada serangan megah tiba-tiba. Buat Khan, usaha yang dia geluti tersebut bisa jadi berasa sungguh menyiksakan, apalagi dia pun mesti mengambil margin dari situ. Saat serangan Taliban terjadi di kampus militer pada Peshawar, misalnya, Khan menyetujui, “Waktu tersebut saya ngerasa sungguh terpukul. ”


Penjual lain peti mati ialah Shehryar Khan, 23. Peti matinya lebih acap dipesan korps militer ataupun paramiliter. “Kami membuat peti mati khusus guna militer. Tersebut biasanya memohon material secara bagus, kayu yang bertambah baik, serta ada pegangannya, ” perintah Khan. Dalam model peti mati biasa, Khan menjualnya seharga US$30. Sementara itu, guna model yang dia tutur deluxe, harganya mencapai US$100. “Sekali alias dua kali di setahun, kita harus menghasilkan peti mati yang sangat khusus jika terdapat pejabat superior militer secara meninggal. Kami menggunakan tiang cedar, ruap yang bernilai tinggi, sertaterus, kain beludru untuk unit khusus hal itu. Harganya lebih kurang 35 seperseribu rupee, kira-kira US$350, ” jelas Khan lagi.




Pantas dengan aturan Islam, pemakaman dilakukan secepatnya, terutama sebelum matahari tergelincir di tarikh yang sama beserta waktu meninggal seseorang. Olehkarena itu itu, Shehryar Khan memprakarsai pelayanan 24 jam. Seorang pramuniaganya, Niaz Ali Shah, 31, menyetujui tidur tatkala toko pada setiap malam. “Pengemudi ambulans juga sudah tahu kami melayani 24 weker. Jadi saat saja tersedia yang perlu peti mati, sopir ambulans mesti membawa merencanakan ke toko kami, ” kata Shah. Shah sendiri mengaku telah bekerja yang toko Shehryar Khan tengah 4 tahun. Bagi Shah, pekerjaannya itu bagian dari kewajiban religius. “Kami berbagi duka sesama. Kami menyusun peti mati bagi mereka sekali lalu sebagai pengingat bahwa kita semua juga akan pasif kelak, ” ucap Shah.


Admin · 5699 views · Leave a comment